JIKA umumnya deteksi dini kanker dilakukan lewat pemeriksaan penanda tumor tunggal, konsep terbaru menawarkan 12 penanda tumor dalam sekali pemeriksaan alias 12 in 1.
Siapa tak ngeri mendengar kata kanker. Penyebab kematian terbesar ke-2 di dunia dan ke-7 di Indonesia ini terus menjadi momok menakutkan. The International Agency for Research on Cancer (IARC) dalam World Cancer Report 2009 memperkirakan pada 2010 kanker akan menjadi penyebab kematian utama di seluruh dunia.
Kabar baiknya, kemajuan teknologi memungkinkan orang melakukan deteksi dini atas beragam jenis tumor atau kanker. Walau bagaimanapun, mencegah lebih baik daripada mengobati, kan? Prinsip ini juga dipegang dunia kedokteran saat ini yang sudah lebih mengarah pada upaya pencegahan penyakit ketimbang pengobatan yang menelan banyak biaya dan membuat pasien lara.
Sebagai konsekuensinya, pemeriksaan sampel darah di laboratorium klinik tidak hanya berlaku bagi si sakit, orang sehat pun dianjurkan melakukan tes darah sebagai langkah "waspada" dan deteksi dini atas kemungkinan terjangkit penyakit tertentu. Hal ini penting, terlebih kanker yang hingga kini penyebabnya belum diketahui secara pasti dan acap kali muncul tanpa gejala.
Disinyalir kanker berasal dari sel di dalam tubuh kita yang disebabkan sesuatu hal lantas tumbuh secara abnormal (sangat cepat dan tidak terkontrol). Sel yang mengganas ini dapat menyusup dan menekan jaringan tubuh sehingga memengaruhi fungsi organ tubuh normal.
Penanggung jawab laboratorium patologi RS Kanker Dharmais (RSKD) Jakarta Dr Agus Kosasih SpPK mengatakan, diagnosis kanker terbilang rumit dan tidak bisa ditentukan hanya dengan satu pemeriksaan saja.
"Untuk seseorang yang sudah 'dicurigai' terkena kanker, diagnosis ditegakkan melalui pemeriksaan dokter dan serangkaian tes patologi anatomi penunjang. Namun, bagi mereka yang sehat, silakan saja melakukan skrining alias deteksi dini kanker di laboratorium klinik," ujar Agus dalam temu media di Laboratorium Klinik Prodia Kramat Raya, Jakarta Pusat,Selasa (17/11).
Hingga kini tak kurang 100 jenis kanker telah ditemukan, dengan 14 jenis kanker tersering dialami. Antara lain kanker payudara, rahim, ovarium, prostat, hati, paru, lambung, kerongkongan, kolorektal (usus besar dan anus), pankreas, testis, kandung kemih, tiroid,dan endometrium. Kendati tidak semua jenis kanker dapat dicegah, angka kematian dapat ditekan melalui deteksi dini dan pengobatan tepat.
Dalam ranah deteksi dini kanker, pemeriksaan dini kanker payudara (USG atau mamografi) dan rahim (papsmear) belakangan populer di Indonesia mengingat gencarnya penyuluhan dan publikasi atas kedua jenis kanker terbesar yang menimpa para Srikandi Indonesia tersebut.
Teknik imaging (pencitraan) merupakan sarana deteksi dini yang umum dipakai. Sayangnya, teknik ini memiliki kelemahan yakni mahal, kurang sesuai untuk skrining populasi skala besar, dan diperlukan ukuran tumor tertentu agar bisa terdeteksi.
Untuk itu, pemeriksaan penanda tumor (tumor marker) menjadi pilihan lain untuk skrining karena bersifat non-invasif dan mudah dilakukan. Tumor marker adalah substansi yang dikeluarkan oleh sel tumor atau bagian tubuh lainnya sebagai respon terhadap adanya pertumbuhan sel tumor. Sebagai catatan, sebuah kanker dapat bermula dari sel tumor yang mengganas.
Melalui pemeriksaan sel atau cairan tubuh (misalnya darah atau urine),tumor marker dapat mendeteksi ukuran dan sifat kanker seperti agresivitas kanker serta respon terapi. Agus menegaskan, fungsi utama pemeriksaan tumor marker adalah untuk pemantauan, bukan diagnosis.
Pada pasien yang sudah positif kanker dan sedang menjalani terapi, dianjurkan melakukan pemeriksaan tumor marker 3 bulan sekali guna memantau efektivitas terapi. "Untuk orang sehat, setahun sekali juga sudah cukup," tukasnya.
Sejak ditemukan pada 1846,tumor marker telah mengalami perkembangan. Secara umum, orang biasanya melakukan pemeriksaan tumor marker konvensional, baik yang bersifat tunggal (single marker) ataupun panel (multiple markers).
"Kombinasi tumor marker atau panel tumor markerbertujuan meningkatkan sensitivitas deteksi sehingga bisa dipakai untuk skrining. Akan tetapi, hasil positif palsu (spesifisitas) berkurang dan biayanya relatif mahal," ungkap Marketing Communication Manager Prodia, Ampi Retnowardani.
Perkembangan teknologi di bidang proteomic dan protein chip (microarray) lantas mendorong terciptanya Biomarker C-12 Protein Chip, yakni suatu analisis paralel dari 12 tipe penanda tumor yang berbeda dalam 1 (satu) pemeriksaan. Konsep baru skrining kanker ini sudah hadir di Indonesia, tepatnya di laboratorium klinik Prodia sejak awal November 2009 ini.
"Dalam hal ini kami bekerja sama dengan HSC Medical Centre Kuala Lumpur, Malaysia, dalam hal penyediaan reagen dan pemeriksaan untuk menentukan hasilnya," kata Ampi.
Biomarker C-12 Protein Chip merupakan konsep baru skrining kanker untuk mendeteksi beberapa jenis penanda tumor dengan hanya satu kali pemeriksaan. Dengan metode deteksi chemilumiscence, pemeriksaan ini mampu menganalisis secara paralel 12 penanda tumor, yaitu CA19-9, NSE, CEA, CA242, Ferritin, HCG, AFP, f-PSA, PSA, CA-125, HGH, CA15-3.
Dibanding pemeriksaan terdahulu, Biomarker C-12 Protein Chip memiliki sejumlah keunggulan. Di antaranya akurasi lebih tinggi serta lebih efisien dalam hal waktu dan biaya (karena dalam satu pemeriksaan diperoleh 12 hasil penanda tumor sekaligus). Selain itu, sampel darah yang diperlukan cukup 2 cc. Padahal, jika menggunakan pemeriksaan tunggal untuk 12 macam tumor marker biasanya diperlukan sekitar 10 cc darah.
"Jika Anda melakukan pemeriksaan tunggal untuk 12 macam tumor marker, biayanya sekitar Rp3juta-Rp4juta. Dengan Biomarker C-12ProteinChip, biaya bisa ditekan menjadi Rp1,5 juta. Kami juga memberikan potongan harga 20 persen hingga akhir bulan ini," beber Ampi.
Teknologi memang kian memudahkan manusia,dan Biomarker C- 12 Protein Chip sebagai terobosan baru layak dicoba,terutama untuk pemantauan terapi kanker. Bagi Anda yang sehat dan selepas melakukan pemeriksaan Biomarker C-12 Protein Chip hasilnya dinyatakan negatif tumor, bolehlah berlega hati, tapi harus tetap waspada.
Sebaliknya jika hasilnya positif, jangan keburu patah arang. Konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan lanjutan.
ref:okezone.com
Deteksi Dini 12 Kanker Sekaligus
Posted by Biroe21 at 5:42 AM 0 comments
Labels: Breast Cancer, Cancer, Cancer Prostate, Cancer; Woman Health, Family Health, Food-Beverage, health, Jantung, Kanker, kesehatan, Kids Health, Man Health, Natural Beauty, Tips and Trick
What is the prostate?
The prostate is a small gland that only men have. The prostate is signaled to do its job by the male hormone testosterone, which can influence the behavior of the prostate gland and prostate cancer. The prostate completely encircles the tube that carriers urine from the bladder to the penis, called the urethra.
Prostate cancer happens when cells in the prostate begin to grow out of control and can then invade nearby tissues or spread throughout the body. The tumors that can spread throughout the body or invade nearby tissues are considered cancer and are called malignant tumors. Usually, prostate cancer is very slow growing. If prostate cancer has spread to your lymph nodes when it is diagnosed, it means that there is higher chance that it has spread to other areas of the body.
Am I at risk for prostate cancer?
Every man over the age of 45 is at risk for prostate cancer. Although prostate cancer can occasionally strike younger men, the risk of getting prostate cancer increases with age and more than 70% of men diagnosed with prostate cancer are over the age of 65. Prostate cancer is the most common cancer that men get in the United States behind skin cancer. It is estimated that there will be 189,000 new cases of prostate cancer and 30,200 deaths from prostate cancer in the year 2002 in the United States.
Although there are several known risk factors for getting prostate cancer, no one knows exactly why one man gets it and another doesn't. Some of the most important risk factors for prostate cancer include age, ethnicity, genetics and diet. Age is generally considered the most important risk factor for prostate cancer. The incidence of prostate cancer rises quickly after the age of 60, and the majority of men will have some form of prostate cancer after the age of 80. One of the sayings about prostate cancer is that older men (over the age of 80) die with prostate cancer not from prostate cancer.
No one knows exactly why, but prostate cancer is more common in African-American and Latino men than Caucasian men. African-American men have a 1.6 fold higher chance of getting and dying from prostate cancer than Caucasian men. Asian and Native American men have the lowest chances of getting prostate cancer.
When Asian men move to Western countries like the United States, their chances of getting prostate cancer rise. Men who live in the United States and Northern Europe have the highest rates of prostate cancer, while men who live in South America, Central America, Africa, and Asia all have much lower chances of developing prostate cancer.
There is some evidence that a man's diet may affect his risk of developing prostate cancer. The most common dietary culprit implicated in raising prostate cancer risk is a high fat diet, particularly a diet high in animal fats. Also, a few studies have suggested that a diet low in vegetables causes an increased risk of prostate cancer. Doctors and scientists aren't in full agreement as to the usefulness of eating these foods when in comes to decreasing prostate cancer risk.
A family history of prostate cancer increases a man's chances of developing the disease. This increase shows itself when a man has either a father or brothers (or both) with prostate cancer, and is even greater when his relatives develop prostate cancer at a young age.
Variations and mutations in certain genes may be responsible for some increases in prostate cancer rates in families. Men who carry mutations in genes known as BRCA1 or BRCA2 (these are genes implicated in breast and ovarian cancer in women) may have a 2 to 5 fold increase in prostate cancer risk. Men with high levels of testosterone or a hormone known as IGF-1 (insulin-like growth factor 1) seem to be at a higher risk for developing prostate cancer as well.
Posted by Biroe21 at 11:55 PM 0 comments
Labels: Cancer Prostate, health, Prostate