Ini dia yang masih banyak mengandung banyak pertanyaan di benak ibu-ibu di Negeri ini, untuk lebih jelasnya mending Anda baca terus sampai habis atikel di bawah. :)
Seorang ibu yang positif mengidap HIV dan mengkonsumsi obat antiretroviral dapat menyusui secara eksklusif enam bulan pada bayinya, tanpa menularkan virus HIV-nya kepada sang bayi. Ini hasil penelitian NACA (National Agency for the Control of AIDS ) Nigeria di Bostwana, Nigeria. Demikian siaran pers yang dikeluarkan Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia di Jakarta, Kamis (10/12), yang ditandatangani Mia Susanto, Ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI).
Dalam siaran pers tersebut disebutkan, hasil penelitian NACA Nigeria tersebut dirilis oleh Profesor John Idoko, Direktur NACA Nigeria, pada 26 November lalu. Tema tulisan ilmiahnya adalah "Universal Access and Human Rights',Closing the Wide Gap in Preventing Mother To Child Transmission (PMTCT)".
Mia Susanto menyatakan menyambut positif penelitian NACA Nigeria tersebut. Sebelum ada pengumuman dari hasil penelitian ini,pihak internasional masih ragu untuk menyarankan ibu yang positif HIV untuk menyusui bayi mereka. "Dengan adanya hasil penelitian ini, ketakutan bahwa bayi yang lahir dari ibu positif HIV akan tertular melalui air susu ibunya menjadi terminimalisir. Selama ibu positif HIV tersebut mengkonsumsi obat antiretroviral," jelasnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, sedari awal AIMI selalu menyarankan agar ibu dapat menyusui secara esklusif bayinya, walaupun dalam keadaan sakit. Pertimbanganya, selain bayi dapat segala kebaikan dari air susu ibu (ASI), juga sang bayi mendapat antibod i dari ibu terhadap penyakit tersebut.
Bayi baru lahir sangat rentan terkena infeksi ataupun berbagai penyakit yang berjangkit di lingkungan sekitarnya. Cara terbaik untuk melindungi bayi tersebut dari infeksi dan berbagai penyakit adalah dengan memberi ASI.
"Mengapa demikian? Karena ASI adalah asupan nutrisi yang paling higienis, yang memiliki gizi paling lengkap, dan terutama memiliki kandungan antibodi yang dihasilkan oleh tubuh ibunya. Antibodi inilah yang tidak dimiliki susu pengganti manapun, yang bisa melindungi bayi dari infeksi sekitarnya," kata Mia.
Mia menegaskaan, pemberian ASI tidak bisa dibandingkan atau digantikan dengan pemberian susu formula. Sebab, susu formula bukanlah produk steril. "Belum lagi untuk proses penyajiannya yang memerlukan tempat dan air, yang belum tentu disterilkan terlebih dahulu. Maka, pemberian susu formula akan meningkatkan bahaya berbagai penyakit infeksi dan mal-nutrisi," katanya.
Adanya rekomendasi dari NACA Nigeria tersebut, tekan Mia, semakin menguatkan gerakan AIMI dalam mendorong pemerintah dan pihak swasta untuk memberikan dukungan terhadap ibu menyusui.
Dalam siaran pers AIMI ini, diungkap pula mengenai lanju pertumbuhan penderita HIV-AIDS. Yakni, Indonesia termasuk negara dengan laju pertumbuhan penderita kasus HIV- AIDS yang tercepat di Asia. Dalam setahun diperkirakan terjadi satu juta kasus baru HIV di Indonesia. Tragisnya 92 persen di antaranya adalah usia produktif termasuk anak dan remaja.
Mengutip laporan yang dikeluarkan Departemen Kesehatan RI, hingga September 2009, dilaporkan sudah 464 anak Indonesia berusia di bawah 15 tahun, positif terinfeksi HIV AIDS. Sebagian besar terinfeksi karena lahir dari ibu yang positif HIV.
Jumlahnya itu kemungkinan lebih besar lagi karena semua kasus belum tentu dilaporkan. Sebagamani di negara-negara lain, di Indonesia pun maslah HIV-AIDS adalah fenomena gunung es.
Bayi atau anak penderita HIV-AIDS diperkirakan kian meningkat pesat. Bertambahnya prevalensi ini diduga mudahnya jalur penularan, yakni pada saat selama kehamilan, persalinan, atau selama menyusui. Orang dengan HIV-AIDS (ODHA) yang tidak mendapat terapi ARV berisiko 15 45 persen anaknya tertular HIV-AIDS.
Berdasarkan berbagai fakta-fakta tersebut, tegas Mia Sutanto, AIMI mendorong pemerintah dan swasta, terutama yang bergerak di bidang kesehatan, untuk memberikan dukungan kepada ibu penderita HIV untuk tetap menyusui bayinya.
ref:kompas.com
Bolehkah Ibu Positif HIV Menyusui Bayinya ??
Posted by Biroe21 at 4:48 AM 0 comments
Labels: Balita, Bayi dan Anak, Cancer; Woman Health, Children, Family Health, Healthy, Ibu dan Anak, kesehatan, Kids Health, Medical Kids, Parents, Wanita
Perhatikan Kepribadian Awal Bayi Anda
SETELAH usia 4 atau 5 bulan, kepribadian bayi Anda akan mulai terlihat. Anda akan mulai bisa menduga, apa yang bikin dia kesal atau terganggu. Nah, pilih karakteristik yang paling sesuai dengan temperamen dia (mungkin saja lebih dari satu). Setelah itu, cobalah tip berikut ini untuk membuat dia (dan Anda!) lebih bahagia.
Pemalu atau Mudah Takut
Karakter sifat utama: Sering tak mau dilepas dan mudah gelisah.
Tantangan: Bertemu orang baru, berada diantara banyak orang, da-dah ketika orangtuanya harus berangkat kerja.
Strategi menenangkan: Jangan paksa dia berinteraksi dengan orang lain. Tapi juga jangan terlalu mengisolasi dia dari orang lain. Dengan lembut perkenalkan dia pada situasi lingkungan sekeliling yang baru.
Mudah Ngambek
Karakter sifat utama: Suka semaunya sendiri, sering menangis dan gampang kesal.
Tantangan:Mainan-mainan yang agak susah diutak-atik, beranjak dari permainan atau situasi yang asyik dan menyenangkan, perubahan dari suatu rutinitas.
Strategi menenangkan: Bayi dengan sifat seperti ini mudah marah, jadi cobalah lebih sabar. Akan membantu kalau Anda memberikan dia masa transisi di antara berbagai kegiatannya. Jangan biarkan dia menyentuh mainan atau buku di toko bila Anda tak membelinya. Disiplinlah pada rutinitas yang menenangkan.
Sensitif
Karakter sifat utama: Gampang resah dan rewel.
Tantangan: Pakaian yang tak nyaman, merasa terlalu panas atau terlalu dingin, lingkungan yang berisik, tempat yang terlalu terang.
Strategi menenangkan: Hindari kain-kain yang gatal seperti wool, dan gunting label pakaian yang bisa mengganggunya. Pilih tempat belanja terdekat kalau mengajak dia, karena bayi dengan sifat seperti ini mudah ngambek dan berapi-api.
Selalu Ceria
Karakter sifat utama: Tidak rewel dan mudah tersenyum
Tantangan: Sedikit sekali. Tapi, bahkan anak yang paling manis pun bisa rewel.
Strategi menenangkan: Anda termasuk beruntung! Bayi seperti malaikat ini jarang sekali membutuhkan penanganan khusus.
Aktif
Karakter sifat utama: Maunya bergerak terus, tak mau diam.
Tantangan: Duduk diam selama beberapa waktu tertentu, sebut misalnya di restoran, duduk tenang di kursi makan.
Strategi menenangkan: Saat di mobil menempuh perjalanan yang lumayan jauh, sering-seringlah berhenti agar dia bisa bebas dari tempat duduknya. Sediakan mainan seperti bola-bola yang bisa melambung dan peralatan olah raga yang jumlahnya cukup, untuk mengimbangi energinya yang seolah tak terbatas.
ref: Parenting Indonesia
Posted by Biroe21 at 12:09 AM 0 comments
Labels: Balita, Bayi dan Anak, Birth, Children, Family Health, Ibu dan Anak, kesehatan, Kids, Parents